Info Teluk Kepayang – Mahkamah Agung (MA) resmi menolak permohonan kasasi yang diajukan terpidana kasus penganiayaan, Mario Dandy Satriyo. Dengan putusan tersebut, hukuman 2 tahun penjara yang dijatuhkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta kini berkekuatan hukum tetap. Keputusan MA ini sekaligus menutup seluruh upaya hukum Mario Dandy dalam kasus penganiayaan berat yang menimpa David Ozora.
Putusan MA: Kasasi Ditolak, Vonis Tetap
Putusan kasasi MA yang dirilis melalui Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) menyatakan bahwa majelis hakim tidak menemukan alasan hukum yang kuat untuk membatalkan atau mengubah putusan sebelumnya. Permohonan kasasi yang diajukan Mario Dandy dianggap tidak memenuhi syarat formil maupun materil.
Dengan demikian, hukuman penjara selama 2 tahun tetap harus dijalani Mario Dandy sebagaimana putusan Pengadilan Tinggi. Selain hukuman badan, putusan tersebut juga mencakup hukuman tambahan berupa kewajiban membayar restitusi untuk korban.
Latar Belakang Kasus yang Menyita Perhatian Publik
Kasus penganiayaan terhadap David Ozora terjadi pada Februari 2023 dan langsung memicu kemarahan publik karena kekerasan dilakukan secara keji dan direkam, kemudian videonya beredar luas. Dalam rekaman tersebut, Mario Dandy tampak melakukan pemukulan brutal yang menyebabkan korban mengalami cedera berat dan koma berkepanjangan.
Kasus ini juga diperburuk oleh isu pamer kekayaan serta penyalahgunaan fasilitas oleh pelaku, yang membuatnya menjadi sorotan nasional dan memicu kritik terhadap moralitas generasi muda serta pola asuh keluarga.

Baca juga: Gus Yahya Mengaku Kebal Fitnah, Dari Aliansi Zionis hingga Makan Duit 900 Miliar
Respons Keluarga Korban: Putusan MA Disyukuri
Pihak keluarga David Ozora menyambut baik putusan Mahkamah Agung. Mereka menilai putusan kasasi yang ditolak merupakan langkah yang tepat dan memberi kepastian hukum.
“Kami menghargai proses hukum yang sudah berjalan, dan putusan MA ini kami syukuri. Semoga menjadi penegasan bahwa kekerasan berat tidak bisa ditoleransi,” ujar perwakilan keluarga dalam keterangannya.
Meskipun demikian, pihak keluarga tetap menyoroti bahwa hukuman 2 tahun dianggap belum sebanding dengan dampak yang ditanggung korban. David masih menjalani proses pemulihan jangka panjang akibat kerusakan saraf dan fungsi otak.
Pakar Hukum: Putusan MA Sesuai Koridor Hukum
Sejumlah pakar hukum pidana menilai bahwa ditolaknya kasasi Mario Dandy merupakan keputusan yang sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Menurut mereka, MA hanya dapat mengadili aspek penerapan hukum, bukan fakta atau pembuktian baru.
“Dalam perkara ini, tidak ada kekeliruan penerapan hukum yang signifikan oleh pengadilan tingkat sebelumnya. Itu sebabnya kasasi ditolak,” ungkap seorang akademisi hukum pidana.
Reaksi Publik: Tuntutan Keadilan Masih Menggema
Warganet ramai menanggapi putusan MA tersebut di berbagai platform media sosial. Banyak yang menganggap bahwa vonis yang tetap 2 tahun masih terlalu ringan dibandingkan penderitaan korban.
Sebagian lainnya menilai putusan MA menjadi bukti bahwa proses hukum telah berjalan sesuai jalurnya tanpa intervensi. Perdebatan soal proporsionalitas hukuman kembali mencuat dan menjadi bahan diskusi publik.
Proses Hukum Resmi Ditutup
Dengan ditolaknya kasasi ini, maka seluruh proses hukum terhadap Mario Dandy telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Ia wajib menjalani sisa masa pidana di lembaga pemasyarakatan tanpa adanya upaya hukum lanjutan.
Sementara itu, keluarga korban berharap fokus utama kini diarahkan pada pemulihan David Ozora, yang masih membutuhkan penanganan intensif, sekaligus pada upaya mencegah terulangnya kekerasan serupa di kalangan generasi muda.
















